Perhatian!

Edisi-pertama, hasil jepretan tim kebingungan.com pada 3 januari 2012, saran, kritik, iklan dan donasi silahkan sampaikan di kebingungan1@ gmail.com atau sms / telf. 085736670734

26 Feb 2012

Exis dengan Internet, Menopang Hidupku di Kampung Inggris


Sebagai seorang blogger pemula berkantong tipis saya sangat bersyukur, karena disaat kepepet lah ide - ide kreatif kita baru muncul, orang bilang "the power of kepepet". Sekarang aku sedang belajar di kampung inggris. nama sebuah desa yang harum dengan julukan “pusatnya kursusan bahasa inggris terbesar dan termurah di Indonesia”, terletak  di kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tak kusangka, bermula dari nebeng laptop teman, ternyata keeksisanku di dunia maya mampu  menopang biaya hidup dan kursusku di Kampung Inggris.

bagiku eksis dengan internet adalah aktif di internet, meliputi blogging, browsing, chatting ataupun sekedar rajin update di social network. Salah satu fenomena yang tidak akan pernah berkurang adalah pengguna internet di seluruh dunia ini, terlebih di Indonesia telah hadir AXIS yang telah terbukti sebagai operator GSM dan 3G dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. peluang eksis di internet terbuka lebar untuk orang yang jeli menangkap dan menjemput peluang di dunia maya. untuk promo dan fitur terbaru tentang Axis, silahkan klik Di sini . Ketika kebanyakan kawan - kawan saya menghabiskan waktunya ber jam - jam di internet untuk update status ataupun membalas comment orang lain di social network, aku lebih enjoy dengan blog kesayanganku ini, browsing tentang informasi lomba, beasiswa ataupun seminar gratis. kadang aku juga belajar tentang komputer di google sebagai trik menekan biaya, caranya, kadang aku pura -pura mau beli majalah komputer di toko majalah, padahal tidak mau beli, aku hanya nyari judul yang saya senangi, judul itu saya ingat - ingat, kemudian saya  brows di google, lebih murah dan lebih banyak pilihannya kan?
Penghasilan pertamaku dari internet cair saat aku berhasil menjualkan tanah salah seorang di kampung inggris lewat forum jual beli online. Komisi dari menjualkan tanah tersebut  5% dari harga jual, Lumayan, penghasilan pertama ini mampu menopang hidup dan kursusku selama dua bulan di kampung inggris, asyiik.......kursus lagi.  

Aku pun selalu aktif mengikuti lomba – lomba yang diselenggarakan di dunia maya. Dengan modal menjuarai beberapa lomba menulis saat masih di SMA, aku pun sempat menjuarai lomba menulis di internet, lumayan, paling tidak ini menjadi pondasi bagi kepercayaanku bahwa di internet tidak semuanya bohong. kini saatnya aku menyalurkan hobiku untuk mencari rezeki dari dunia  internet. otomatis aku harus selalu eksis di internet. Bagiku internet ibarat pedang  tajam bermata dua, kalau pandai memanfaatkannya, bisa menjadi sumber pendapatan bagi kita, namun jika ceroboh, justru akan memenggal kita dengan menghabiskan waktu untuk update status di facebook, menonton film, membaca komic, main game ataupun melakukan hal kurang bermanfaat lainnya.



 “Keeksisan kita di internet harus bermanfaat bagi orang lain”.
 Data menunjukkan bahwa 95%  anak kursusan di kampung ingggris berasal dari luar kota Kediri. Setiap bulan pengunjungnya selalu berganti. Riset sederhanaku dengan memantau komentar – komentar mereka di group 'kampung –inggris' pada facebook dan cerita dari kawan - kawan yang ada di kampung inggris membuktikan bahwa Saat pertama kali datang ke pare, 70% dari mereka selalu kebingungan mencari tempat kosan. Kadang harus keliling kampung, datang ke rumah – rumah yang ada kosannya satu persatu, tanya harganya berapa per bulan, penghuni maksimal per kamarnya berapa, keadaan kamar mandinya gimana, dan lain – lain. Kadang sudah nanya – nanya banyak, sudah ngecek ke dalam kamar, nggak jadi masuk kosan itu, yang terjadi kadang pencari kosannya malu, pemilik kosannya nggerutu. di kampung inggris terdapat sekitar seratus lembaga kursusan yang tersebar di dalam wilayah kampung inggris yang luasnya sekitar 50 km persegi. Setiap lembaga memiliki program unggulan dan biaya yang berbeda – beda, kadang pencari kursusan harus capek jalan kaki keliling kampung mendatangi setiap kursusan untuk sekedar tanya ataupun meminta brosurnya. Meski kampung inggris begitu terkenal di seluruh Indonesia, namun kebanyakan dari pemilik kos dan kursusan di sini belum begitu  kenal dengan marketing online.  Hal ini memicuku dalam memunculkan sebuah ide unik, bagaimana caranya agar para pemilik kursusan dan kosan yang gaptek tersebut menjalankan bisnisnya secara online. Seperti biasa, sebelum action, aku melakukan riset dulu lewat google dan facebook, saat saya jelajahi di dunia maya, ternyata  belum ada website yang sama dengan ideku. Aku pun membuat sebuah situs yang memuat tentang informasi detail tentang kosan dan brosur kursusan, jadi anak – anak kursusan di kampung inggris tinggal masuk warnet, klik situs saya, brosur kursusan dan harga kosan satu kampung sudah ada di depan mata, tinggal geser mouse untuk menjelajahi kampung inggris.

Misi besarku membangun cyber village di English fillage
Saat ini aku sedang dalam pengejaran sebuah mimpi besar. Yaitu membangun sebuah jaringan wifi jangkauan luas yang mampu menjangkau setiap sudut kampung inggris, beberapa referensi tentang kampung cyber selalu saya ikuti lewat googling. Aku melihat, anak – anak kosan yang ada di kampong inggris ini banyak yang membawa laptop, maklum lah, kebanyakan dari mereka adalah para mahasiswa, , laptop bukan barang mewah lagi bagi mereka. Tapi sayang, meski mereka sudah punya laptop sendiri, tapi tetep aja harus pergi ke warnet atau cari kafe yang ada jaringan wifinya untuk browsing. alasannya belum punya uang untuk beli modem dan langganan internet. Impianku suatu saat nanti anak – anak kursusan di kampung inggris yang membawa laptop, dapat mengakses internet tanpa harus merogoh kocek untuk beli modem ataupun mencari sinyal wifi biasa yang jangkauannya dekitar 20 meter saja. dengan memanfaatkan fasilitas  wifi yang saya rakit nanti, mereka bisa mengakses internet  dari kamar kosan, mereka tinggal mengoneksikan laptopnya tanpa harus keluar kamar, karena setiap sudut kampung iggris sudah ada sinyal wifinya. meski cita - citaku ini terkendala biaya, namun aku tidak akan pernah menyerah.

Ternyata dengan komunitas mampu  menghemat biaya dan waktu belajar hingga  95%
Sebagai anak kosan berkantong tipis, Aku punya prinsip, dengan google, semua yang kita cari akan ketemu, semua masalah terselesaikan dan yang mahal akan menjadi murah, bahkan gratis. intinya kita harus selalu eksis di internet. Namun pengalamanku belajar otodidak dengan mengandalkan Google terlau sulit dan memakan waktu lama, maklum, sesuatu yang murah selalu ada kekurangannya. Kadang aku belajar tentang  blogging tanpa tidur dari malam sampai matahari terbit.  Misalnya saja untuk mengetahui fungsi – fungsi pada element blogger, saya harus bergadang sampai pagi, kira - kira satu bulan, berhubung tidak ada yang memandu, try and error adalah makanan setiap hariku. tapi ketika aku mengajari temanku, hanya dengan 30 menit, dia sudah bisa menggunakan fungsi – fungsi itu,  hasil belajarnya selama 30 menit sama dengan hasil belajarku selama 30 hari. alasannya mudah, ketika ada kesulitan dia langsung mendapatkan jawaban praktekku, sementara aku dulu harus memilah - milah tutorial Text dan gambar yang berupa benda mati.

Dari pengalamanku tersebut, terbesitlah dalam pikiranku untuk membuat sebuah komunitas pecinta komputer di kampung inggris. Agar biaya lebih murah, karena yang mengajari adalah kawan kita sendiri  dan waktu lebih cepat karena langsung praktek dan Tanya saat ada kesulitan.  

Misalnya nih, seorang siswa desainer grafis yang baru saja selesai kursus photoshop dan corel Draw dengan biaya Rp. 400.000- langsung bisa menghasilkan dengan mengajari beberapa member junior yang masih belum paham tentang  desain grafis. Jadinya Simbiosis mutualisme, Junior memperoleh biaya kursus yang lebih murah, yaitu hanya membayar Rp. 20.000, sang senior sudah bisa menghasilkan income dengan mengajar sang junior sebagai kerja sambilan.

atau bisa juga menerapkan sistem barter keahlian, gambarannya begini, misalnya si A pandai desain grafis, namun  dia tidak punya biaya untuk kursus teknisi komputer. sementara si B pandai teknisi, tapi ingin belajar Desain Grafis. nah, di komunitas ini kita bisa tukeran keahlian, si A mengajari si B desain grafis, sebagai imbalannya, si B mengajari si A teknisi secara gratis. kedua - duanya untung, bandingkan dengan kursus komputer yang biayanya sekitar Rp.400.000 per program, lebih irit bukan? inilah komunitasku.

Demikian kisahku di kampung inggris, hingga saat ini, aku selalu eksis dengan internet sambil belajar bahasa inggris di kampung inggris. perkembangan IPTEK sangat erat dengan bahasa inggris, kebetulan sini sudah ada kampung inggrisnya, kampung cyber dan kampung teknologi mungkin akan segera saya hidupkan untuk menghiasi nama desa kecil di Jawa Timur ini, hehe...

kalau kita tidak pandai memanfaatkan teknologi, maka teknologilah yang akan mememperdaya kita. Artikel ini saya persembahkan untuk mengikuti kontes eksis dengan internet. yang diadakan oleh www.duniaaxis.co.id

1 komentar:

Pas masuk paragraf kedua, saya kira bakalan bosen di tengah jalan. Pas akhirnya selesai baca, entah kenapa akhirnya kepikiran 'cool juga'. Suka deh bacanya ....

Posting Komentar

sepatah kata comment kamu, sangat berarti bagiku,...

komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More