Perhatian!

Edisi-pertama, hasil jepretan tim kebingungan.com pada 3 januari 2012, saran, kritik, iklan dan donasi silahkan sampaikan di kebingungan1@ gmail.com atau sms / telf. 085736670734

20 Mei 2012

Sepatu Buaya

Matahari menganga di ufuk barat pada suatu senja 17 tahun yang lalu, saat itu aku masih duduk di kelas TK, tiba -  tiba saja kakakku yang masih kelas 2 SD itu berlari ke depan rumah kegirangan.  Tak biasanya dia sebahagia itu menyambut kedatangan bapakku yang  baru pulang dari kerja bangunan, saat  itu aku yang masih lugu hanya ikut - ikutan lari di belakang kakakku...  ,ternyata beliau  pulang sambil menenteng 2 stell sepatu, yang satu stell hitam dan yang satu  stell berwarna putih kekuning - kuningan karenausang.keduanya sudah sobek - sobek, namun masih layak pakai. Kami berdua pun mencoba - coba sepatu bekas tersebut sambil  berebutan, dengan naluri kebijaksanaan bapakku, akhirnya kakakku pun mengalah, aku lebih suka memilih yang berwarna putih.

Malemnya kami senang sekali, kami amat - amati dan kami bolak - balik sepatu bekas itu sambil sesekali membending - bandingkan keunggulannya. maklum, sejak 2 minggu yang lalu kakakku selalu menangis untuk dibelikan sepatu baru, sepatunya yang lama sudah sobek di bagian depannya sehingga dia sering dikatai teman - temannya "hei sepatu buaya"

 Esok harinya, dengan bangga kita berangkat sekolah bareng pakai sepatu loakan itu. menjelang akhir tahun, giliran sepatu putih milikku yang sudah mulai terkoyak sangat parah, saat itu kaos kakiku juga sudah terkoyak bagian dalamnya, kadang sangat kontras terlihat jari jemari dan tumit kakiku yang hitam itu terbungkus sepatu putih yang sudah banyak ventilasinya. setiap akhir munggu, sengaja sepatu itu tak boleh dicuci biar warnanya tak terlalu mencolok dengan kakiku.

Saat akhir tahun, TK Aisiyah Bustanul Atfal mengadakan karnafal ke lapangan kecamatan, saat itu aku ngambek pingin dibelikan sepatu baru, namun bapakku yang pekerjaannya tidak tetap bilang kalau beliau belum punya uang, seperti anak - anak pada  umumnya, aku hanya bisa merengek dan menangis...

Sampai pada hari H keberangkatan karnaval itu, ternyata bapakku benar - benar tak sanggup membelikan sepatu, bahkan sepatu loakan sekalipun. namun beliau mencucinya sampai bersih, saat itu aku diantar oleh beliau sampai depan sekolah, mungkin agar  tak ada yang berani mengejek, atau agar aku lupa tentang permintaan sepatu baru tersebut.

Saat ini aku sudah kuliah, kakakku sudah menjadi seorang pelaut, rasanya haru saat meningat masa - masa itu. Saat menulis kisah ini, aku hampir tak tertahankan untuk menetskan air mata. 

komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More