Namaku binto, rumah real estate..mobilku banyak harta melimpah.........................kalo ini lagunya iwan fals. Tapi kalo namaku Binto Saputra. Lahir di Jakarta 23 tahun yang lalu. Dulu aku tau kampung Inggris dari temen kakakku. Dulu kakakku kerja di Atasiun televisi RCTI, sekarang di Kementrian Kominfo, tapi disini aku nggak akan cerita tentang kakakku. Hehe, sorry ya agak ngaco..
Aku meraih gelar kesarjanaan di bidang menejemen Ekonomi dari sebuah universitas swasta. Selepas wisuda, aku bingung ngelamar kerjaan nggak dipanggil – panggil. Atas saran kakakku aku disuruh belajar bahasa Inggris ke pare sebagai bekal kemampuanku. Pertama kali datang ke pare aku diantar oleh Bapak dan ibuku. Kami sangat kebingungan, karena belum pernah ke kampung inggris sebelumnya. Untung saja, ketika itu, di salah satu pagar rumah warga kampung tertempel tulisan bahwa di tempat tersebut adalah pusat informasi kos – kosan di kampung Inggris. Ayahku pun mengarahkan mobilnya ke rumah orang tersebut. Singkat cerita kami pun diantar oleh sang empunya rumah ke sebuah camp neglish area, karena waktu itu kita nggak tahu apa – apa,tanpa pikir panjang aku pun bersedia nge –camp di tempat yang direkomendasikan bapak – bapak itu.
Ternyata camp tempatku tinggal sangatlah mengecewakan, di depan terpampang tulisan “ Camp English Area, tapi penghuni di dalamnya bebas memakai bahasa Indonesia dan Jawa. Lama – kelamaan aku tahu, ternyata bapak – bapak yang mengantarku dulu mempunyai hubungan bisnis dengan Camp tempatku tinggal. Denger – denger sih Dia mendapatkan komisi Rp. 10.000 dari setiap membawa orang baru di Camp saya. Ternyata banyak temen – temen camp saya yang menjadi korban obyek bisnis bapak – bapak tersebut. Sebagian mememang merasa puas dengan Camp kami, tapi banyak yang kecewa. Masalahnya, listik kami sering sengaja dimatikan oleh ibu kosnya kalau dia sedang menghidupkan mesin cuci untuk bisnis laundrynya. Bagi kami hal itu sangat penting, karena listrik yang tiba –tiba mati mengakibatkan hard disk laptop kami cepet rusak. Selain itu, ibu kosnya juga agak judes. Pernah suatu ketika, box spedometernya terbakar, bukannya panik, tapi kami malah merasa senang sekali. Supaya meledak sekalian tuh spedometer.
Hanya dua bulan aku bertahan di Camp gadungan tersebut, akhirnya aku sama salah seorang temenku pindah di sebuah kosan yang sangat sempit. Ketika ditelfon orang tuaku tentang keadaan kosanku yang baru aku bilang apa adanya, “kosannya sini sangat sempit”, saat itu juga bapakku menyarankan untuk pindah kosan yang lebih nyaman. Aku pun pindah untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku pindah di sebuah kosan yang sederhana, biayanya hanya Rp.75.000 per bulan, tapi kalau bawa laptop tambah 15.000, jadi totalnya Rp.85.000. tak kusangka, ternyata kosanku yang ini keadaannya lebih parah dari kosanku sebelumnya, memang sih ruang tidurnya besar, tapi kamar mandinya sangat kotor, closetnya berwarna hitam dan belum di keramik. Selama tiga bulan di situ aku terpaksa ke masjid An – Nur untuk BAB setiap harinya. Biasanya setiap jam 06.00 aku dan seorang temenku sudah mengayuh sepeda untuk setoran di WC-nya masjid An-Nur. Baru di akhir- akhir aku tinggal di situ, ku paksa diriku untuk mampu BAB di kloset yang tidak layak bagiku tersebut. Satu tambahan lagi, ternyata ibu kosnya sini sama galaknya dengan Camp tempatku tinggal pertama kali. Tapi lebih mendingan, karna dia nggak suka matikan listrik sembarangan. Jadi kalau dihitung skornya ya 2-1 lah...
Baru saja aku mulai terbiasa dengan kamar mandi kosan tempatku tinggal tersebut, eh, ada temenku yang pindah se sebuah kosan yang sangat murah, biayanya hanya Rp 50.000 per bulan untuk bulan. Aku pun mengikuti dia dengan pertimbangan biaya yang lebih murah. Tapi keadaanya memang sesuai dengan harganya, lebih parah dari kosanku sebelumnya, kalo boleh saya bilang, seperti rumah hantu lah, tapi penghuninya sekitar 14 orang, jadi nggak terkesan horor lagi. Nilai lebihnya disini nggak ada ibu kos yang galak lagi. Kalau orang tuaku tau aku tinggal di rumah hantu ini, pasti dia nyuruh aku pindah lagi, tapi aku nggak mau ngomong sama dia. Karena aku sudah enjoy di sini, sekalian belajar untuk menikmati hidup sederhana. Biar bisa melihat ke bawah saat menjadi orang besar nanti...cie...
Oh iya, sampai saat aku menulis cerita ini, sudah 6 bulan aku di Pare, aku sudah mengikuti kursus komputer akutansi, Grammer, TOEFL preparation dan Bahasa Jepang. Karena paksaan si empunya situs ini, terpaksa kutulis, salam kebingungan.....


