Perhatian!

Edisi-pertama, hasil jepretan tim kebingungan.com pada 3 januari 2012, saran, kritik, iklan dan donasi silahkan sampaikan di kebingungan1@ gmail.com atau sms / telf. 085736670734

19 Des 2011

Kisah si Sogek- dari Jateng. (ahli peracik “peok”- nama sebuah minuman perileks)


Oke, langsung aja brow... gue berasal Dari sebuah kota di ujung utara Jawa Tengah. Sorry, gue nggak bisa nyebutkan Nama kotanya. Awalnya gue tau Kampung inggris dari anaknya temen ibuku, nah loe, bingung kan? Pokoknya gitu lah.... karena anaknya temen ibuku itu dulu pernah ke Kampung Inggris, sekarang  dia mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolahan di Pati,  sekaligus menjadi tutor sebuah kursusan di kota yang sama.
Sebenernya aku adalah salah satu dari Mahasiswa UNNES (Universitas Negeri Semarang) fakultas Manajemen, tapi dipenghujung semester satu aku sangat bosan. Terpaksa aku memutuskan untuk ambil cuti, sebenernya dosenku nggak mengijinkan, tapi aku tetep nekat, kurang lebih satu bulan aku nganggur di kota kelahiranku. masa – masa nganggur itu justru membuat kedua ortuku cemas, pasalnya hampir setiap malam gue nongkrong sama temen – temen lamaku di desa. Nggak sekedar nongkrong aja, kebiasaanku waktu SMA kembali terulang. Nongkrong sampai dini hari ditemani sama chongyang, anggur ato sekedar Topi Miring. Serentetan nama- nama minuman wajib di kalangan kita. Bahkan nama gue sudah tenar di kalangan mereka sebagai ‘master pengracik peok’. Peok adalah minuman oplosan yang kita pakai untuk merilekskan fikiran, bahan dasarnya adalah obat – obatan batuk dicampur dengan minuman serbuk biasa. Kata mereka, minuman racikan gue rasanya paling mantap,sehingga gue nggak pernah luput dari undangan mereka ketika ada party minum – minum.
Singkat cerita aku berangkat ke Pare diantar bapakku. Maklum, seumur hidup baru kali ini aku perjalanan ke luar kota naik Bus umum. Oh ya, saat ortuku seneng banget, karena waktu di rumah hancur banget tuh kehidupanku. Pertama kali datang ke pare tanggal 8 November 2012.   Waktu pertama kali menginjakakkan kaki di kampung Inggris aku sangat bingung dengan banyaknya kos dan lembaga kursusan disini. Karena waktu datang itu sudah sore, akhirnya aku pun mendaftarkan diri untuk ngekos di sebuah kosan yang paling dekat dengan tempatku diturunkan oleh tukang becak. Ternyata teman – teman kosku enak  juga, tapi ibu kosnya yang nggak enak, agak galak brow.
Pada periode 25 November aku mengambil program speaking di sebuah lembaga kursusan di sini. Ada hal menarik yang gue temui di kosan ini. Meski kosanku bukanlah english area, tapi penghuninya banyak yang menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi sehari – hari. Bahkan pada awal – awal gue datang. Mereka presentasi  berbahasa Inggris secara bergantian di ruangan yang biasanya digunakan untuk nonton TV. Salut lah gue sama semangat mereka. Awalnya sih gue khawatir kalo nggak betah diatur - atur disini, soalnya ketika dirumah kehidupan gue bebas banget, nggak ada yang bisa ngatur - ngatur gue. Tapi gue sangat terkejut setelah beberapa hari memahami pola hidup mereka di kosan yang sederhana ini.
Ternyata mereka latihan presentasi, menghafal vocab, sholat lima waktu dll, nggak ada yang menyuruh. Setelah gue tanya ke beberapa orang diantara mereka. Jawabannya sangat aneh, mereka melakukan itu semua atas dasar kesadaran dankebutuhan pribadi. Yah sangat aneh bagi gue, karena selama ini gue nggak pernah yang namanya belajar. Jangankan cuma ulangan mingguan, waktu ujian Nasional saja gue nggak pernah mbuka buku. Dari sini juga baru mulai terbuka kesadaran gue, kasihan juga sama orang tua yang sudah membuang – buang uang begitu banyak untuk membiayai gue. Mungkin mereka sudah capek menasehati gue, karena memang saya sadari, gue nggak pernah mendengarkan nasehatnya.
Lama – kelamaan gue menyesuaikan diri dengan mengikuti pola hidup mereka di sini. Cara mereka belajar, meninggalkan hura – hura malam, jauh dari minuman keras dll. Bahkan gue sholat disini. Wauw...gue sholat meen.... ! gue sendiri juga hampir nggak percaya, soalnya sejak gue mengenal dunia hitam bersama  kawan – kawan di rumah nggak pernah tuh yang namanya Sholat. Gak kebayang kalau kawan – kawan mabok gue tau aku disini make sarung, baju koko, dan peci trus sholat. Bakalan ditertawakan habis – habisan brow, malah bisa jadi kalau mereka tau saat gue tahiyat akhir, disajikan sebotol miras di depan sajadah gue. Jujur, gue lebih nyaman tinggal disini daripada di kampung saya sendiri, ataupun di kontrakan gue di semarang.
Namun jalan perubahan menjadi baik memang nggak mudah. Ada saja halangannya. Baru beberapa hari disini saja kawan – kawan dirumah sudah pada nelfon, ngajak gue mabok – mabokan lagi. Ditambah cewek gue yang nggak mau gue tinggal. Sampai sekarang gue juga masih bingung, antara ngelanjutkan kuliah lagi atau membuka bisnis sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

sepatah kata comment kamu, sangat berarti bagiku,...

komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More